MISTERIUS! Setelah Muncul Danau, Kini Lubang-lubang Besar Muncul di Gunung Kidul


Ladang milik beberapa warga di Desa Bedoyo, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul, Dareah Istimewa Yogyakarta (DIY) tiba-tiba ambles secara misterius berbentuk lubang. Tercatat ada 4 lubang misterius di desa ini dengan ukuran beragam.

Lubang paling besar ada di ladang milik Suyatmi (47), warga Dusun Pringluwang, Bedoyo. Lubang tersebut berbentuk lingkaran, diameternya antara 10-12 meter dengan kedalaman antara 5-6 meter.

Lubang di ladang milik Suyatmi persis berada di samping jalan Semanu-Pracimantoro. Warga yang melintasi jalan ini pasti mengetahui lubang misterius tersebut. Jarak antara lubang dengan jalan raya juga dekat, sekitar 7-10 meter.

Ladang milik Suyatmi sekarang ini sedang ditanami kacang tanah. Di sela-sela tanaman kacang tanah tersebut terdapat batang tanaman jagung yang sudah mengering. Namun oleh Suyatmi batang tanaman jagung tersebut tetap dibiarkan menancap di ladang.



Sebelum ditanami kacang tanah, memang berturut-turut ladang milik Suyatmi ditanami padi dan jagung. Setelah tanaman jagung berhasil dipanen, baru ladang tersebut ditanami kacang tanah.

Meski sudah memanen jagung, Suyatmi justru gusar. Seban lubang misterius di ladangnya semakin melebar.

"Ya khawatir, kan jadinya takut kalau mau nanam atau manen di ladang," kata Suyatmi kepada detikcom di lokasi, Rabu (7/2/2018).

Sempat Muncul Danau Misterius


Munculnya air di lebih kurang 30 hektar lahan di Gunungkidul masih menimbulkan tanda tanya sejak diketahui pada Rabu (29/11/2017) lalu.

Kepala Balai Besar Sungai Serayu Opak (BBWSO), Tri Bayu Aji mengaku masih menganalisis penyebab luapan air yang merendam puluhan hektar lahan di Dusun Wediwutah, Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu. Dan hingga kini, belum menghasilkan apapun.



“Kami belum tahu apa itu (luapan) berasal dari Bribin (bendungan sungai bawah tanah), karena kalau kami lihat di peta lokasi luapan itu bukan merupakan jalurnya Bribin."ujarnya.

"Tetapi karena Bribin itu daerah karst jadi bisa saja airnya menembus kemana-mana, dan mungkin terus menyembur itu,” terang Aji panjang lebar kepada Tribunjogja.com.

Namun hal itu belum dapat ia pastikan, pasalnya sampai dengan saat ini pihaknya belum dapat mengakses untuk melihat bendungan bawah tanah baik di Bribin I dan II yang lokasinya sekitar dua kilometer dari luapan air.

Pintu akses untuk melihat bendungan terhalang dengan air yang meluap merendam jalan menuju ke bawah tanah.

“Di Bribin I memang sudah mulai surut, tapi di Bribin II getarannya masih sangat kuat. Itu artinya aliran sungai bawah tanahnya juga masih kencang,” jelasnya.

Diketahui elevasi normal di Bribin dan Bribin II yang terletak di Desa Dadapayu, Semanu itu adalah diantara titik 10 sampai 15.

Namun dari pantauan terakhir pada Jumat, elevasinya mencapai titik 64, akibatnya membuat seluruh pompa yang ada di dalamnya terendam dan tidak dapat dioperasiokan untuk menyedot air ke atas.

Kepala Dusun Wediutah, Diarto mengatakan sejak Rabu (29/11) sampai Jumat (1/12) luapan air yang berasal dari sumber mata air Ngreneng telah menggenangi lahan seluas sekitar 30 hektare. (bbs)



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.