Salam Kenal Para Pecinta Misteri

Blog ini khusus membahas tentang misteri di dunia. Dengan data yang kami kumpulkan dari beberapa forum terkemuka. Dijamin para pembaca akan disuguhkan dengan cerita-cerita menarik yang masih menjadi perdebatan. (Jangan harap menemukan cerita porno, gambar bugil ataupun video seks di blog ini)

Selasa, 30 Oktober 2012

Asal Mula Larangan Menikah Sunda-Jawa

Pernahkah anda mendengar bahwa orang Sunda dilarang menikah dengan orang Jawa atau sebaliknya? Ternyata hal itu hingga ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat kita. Lalu apa sebabnya?

Mitos tersebut hingga kini masih dipegang teguh beberapa gelintir orang. Tidak bahagia, melarat, tidak langgeng dan hal yang tidak baik bakal menimpa orang yang melanggar mitos tersebut.

Lalu mengapa orang Sunda dan Jawa dilarang menikah dan membina rumah tangga. Tidak ada literatur yang menuliskan tentang asal muasal mitos larang perkawinan itu. Namun mitos itu diduga akibat dari tragedi perang Bubat.


Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit, yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.

Hayam Wuruk memang berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit.

Maharaja Linggabuana lalu berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit.

Menurut Kidung Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.

Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan oleh untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Versi lain menyebut bahwa Raja Hayam Wuruk ternyata sejak kecil sudah dijodohkan dengan adik sepupunya Putri Sekartaji atau Hindu Dewi. Sehingga Hayam Wuruk harus menikahi Hindu Dewi sedangkan Dyah Pitaloka hanya dianggap tanda takluk.

"Soal pernikahan itu, teori saya tentang Gajah Mada, Gajah Mada tidak bersalah. Gajah Mada hanya melaksanakan titah sang raja. Gajah Mada hendak menjodohkan Hayam Wuruk dengan Diah Pitaloka. Gajah mada Ingin sekali untuk menyatukan antara Raja Sunda dan Raja Jawa lalu bergabung. Indah sekali," tegas sejarawan sekaligus arkeolog Universitas Indonesia (UI) Agus Aris Munandar.

Hal ini dia sampaikan dalam seminar Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 bertemakan; 'Kontroversi Gajah Mada Dalam Perspektif Fiksi dan Sejarah' di Manohara Hotel, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jateng, Selasa (30/10).

Pihak Pajajaran tidak terima bila kedatangannya ke Majapahit hanya menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai taklukan. Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada.

Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukan Bhayangkara ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu.

Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Raja Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat.

Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela pati atau bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatria, tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.

Hayam Wuruk pun kemudian meratapi kematian Dyah Pitaloka. Akibat peristiwa Bubat ini, bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak pejabat dan bangsawan Majapahit, karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. Mahapatih Gajah Mada dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri.

Tragedi perang Bubat juga merusak hubungan kenegaraan antar Majapahit dan Pajajaran atau Sunda dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian. Hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala.

Pangeran Niskalawastu Kancana, adik Putri Dyah Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil dan menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana.

Kebijakan Prabu Niskalawastu Kancana antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri ti luaran (beristri dari luar), yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.

Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki 'Prabu Wangi' (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya. Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.

Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga kini. Antara lain, tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama 'Gajah Mada' atau 'Majapahit'. Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.

34 komentar:

  1. yang aku heran, kenapa pangeran niskalawastukancan tidak menyerang majapahit untuk membalas dendam. ini sangat menyakitkan bagi suku sunda, keparat tuh Gajah mada

    BalasHapus
    Balasan
    1. klo pangeran niskalawastukancan menyerang majapahit akan timbul peperangan hingga keturunan brikutnya.

      Hapus
    2. kan di bilang dia masih kecil....mana mungkin bisa menyerang kerajaan majapahit.....karena dy satu"nya penerus tahta....klo dy mati sapa yg nerusin?

      Hapus
  2. Itu karena pasukan sunda kalah banyak dengan pasukan majapahit yang saat itu sangat superior mempunyai banyak adipati di seluruh tanah jawa

    BalasHapus
  3. Komentarlah yang baik dan bijak, semua itu hanya cerita benar tidak cerita itu pasti banyak bumbu-bumbu penyedap, agar orang tertarik membaca.

    Orang titip omongan pasti ditambahi, kalau titip duit tidak mungkin ditambahi...

    Jadi yukkk kita realistis aja mas Broo....

    BalasHapus
  4. Kejadiannya sudah berabad-abad yg lalu....koQ emosinya masih ada...dewasa aja dalam membaca...sekarang ya indonesia...bukan majapahit, pajajaran, sriwijaya atau apapun itu....anak atau keturunan raja aja ga ada....ga usah emosilah!!

    BalasHapus
  5. Lumaya buat ilmu :D
    Tpi emang bener dampaknya terasa sampe sekrng... klo menurut saya sih intinya kenpa sampe sekrng sunda-jawa kurang akrab karna dri diri kita sendiri yg belom apa apa udah mendokrin duluan dengan alasan beda budaya dll... mknnya kenpa kita gampang bentrok ya krna orang orang kitanya terllu memendam dendam kelamaan dan ujung ujungnya menjadi hukum alam... hukum alam itu terjadi krna kebiasaan coba deh klo pikir pake logika...itu kan dulu ya sekrng ayolah bersatu jgn sampe bangsa kompeni kembali lagi... bukan untuk jawa-sunda aja tpi bagi semua suku yg rentan bentrok... kita Indonesia... bukan jawa bukan sunda bukan semuanya.. tapi satu nama Indonesia...
    Nah... klo koruptor boleh lah di bilang bukan Indonesia atau penghianat... krna itu cuman ngacak ngacak sama nyari kambing hitam... korupsi bukan budaya suku yg ada di indonesia kok :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. budaya yang beda lahir dari cara berpikir, cara pandang dan pengalaman yang berbeda atas suatu hal. Dalam kasus ini hasrat berkuasa menjadi budaya yang dianut oleh Gajah mada (sbg Mahapatih) berbeda dengan budaya kekeluargaan yang didasari niat menjalin tali silaturahim kerajaan Pajajaran saat itu. Tentu saja perbedaan itu, jika berlangsung akan menimbulkan sebentuk penjajahan bagi Pajajaran, Niat baik berbenturan dengan niat buruk tidak akan ketemu dalam perdamaian dan harmoni. Bahkan akan mengganggu keseimbangan alam.
      Sikap Niskalawastu Kencana untuk memutuskan hubungan diplomatik sudah tepat, Dan kiranya akan nyata benar jika larangan leluhur dilanggar; memaksakan diri dalam pernikahan sunda-jawa, maka kita akan terjebak dalam penderitaan. Karakter Dasar Sunda-Jawa yang bertentangan (diwakili oleh Raja Pajajaran cs dan GajahMada ) itulah yang menjadi sebab penderitaan dalam perkawinan.

      Hapus
    2. Kalau soal Nama Jalan memang benar , di Bandung dan hampir di seluruh wilayah jawa Barat , tak ada nama jalan yg bernama " Gajah Mada & Majaphit " , Ini saya ketahui karena saya Lama di wilayah parahiyangan ( 4.5 th di Unpad , 3 thn sebagai Stap personalia Pt.Kahatex - cijerah dan 4 tahun di Kuningan ( Kampung suami ). Pun sebalik'a di seluruh Jawa Timur tak akan di temukan Jalan yang bernama Padjadjaran dan Siliwangi , ini menurut keterangan banyak teman dan Media.
      Tapi Soal pernikahan antara Wanita jawa dengan lelaki Sunda ( sebaliknya ) bisa mendatangkan keburukan ( banyak pertengkaran dan berujung penceraian ) Adalah Mitos belaka , Fakta saya adalah wanita berdarah jawa 100% ( Djogjakarta ) sedang suami asli dari suku Sunda ( Kuningan ) , sudah 14 tahun menikah dan di karuniai 2 orang puteri ( 12 & 4 tahun ) , selama pernikahan dalam kurun 14 tahun boleh di kata kami bahagia , harmonis dan penuh kasih sayang , kami bisa saling menghormati dan menghargai satu sama lain , baik dari segi kebiasaan , adat dan budaya.
      Dalam pernikahan yang di butuhkan adlah kedewasaan dan persamaan tujuan. Bukan masalah Kesukuan.

      Hapus
  6. apa bukan siasat belanda untuk memecah belah bangsa indonesia di masa penjajahan dulu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, bahwa mitos ini sudah diketahui oleh pihak Belanda untuk kemudian diolah untuk kepentingan mereka disini sebagai penjajah.tujuannya adalah untuk memecah belah kerukunan antar negeri ketika itu. sehingga antara negeri yang satu dengan negeri yang lainnya timbul sikap saling permusuhan dan tidak pernah akur.ini sesuai dengan politik mereka (Belanda atau bangsa yang lalinnya) dinegeri jajahannya yaitu politik adu domba (Devide et impera)

      Hapus
  7. pantesan beda banget antara jawa barat dengan jawa yg lain..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk menyatukan Sunda- Jawa dalam perkawinan, perlu pemahaman karakter dan budaya satu sama lain, tidak semua orang jawa seperti Gajah Mada, Hayam Wurukpun sebenarnya berniat baik, tapi dia tak cukup punya pengaruh dan kekuasaan untuk bertindak tegas.Dia terlalu tergantung kepada GM yang saat itu sangat berpengaruh. Dan sikap itu banyak dimiliki oleh laki2 Jawa yang pada umumnya manut pada orang yang dianggap berpengaruh dalam hidupnya.

      Hapus
  8. lumayan buat menambah cakrawala kita tentang cerita rakyat jawa sunda. bumbu cerita nya pasti ada tapi pokok ceritanya adalah kisah perang Bubat kan memang ada

    BalasHapus
  9. Gag ngaruh jawa sunda betawi,manah juga yg penting seagama

    BalasHapus
  10. buat saya (orang sunda) sangat berpengaruh....

    BalasHapus
  11. kalo mau memperpanjang dendam maka turunan adam dan hawa terpecah dua karena peristiwa pembunuhan antara habil dan qabil jadi apa mau di terusin nih perkara dendam mendendam.....
    gitu aja ko repot....

    BalasHapus
  12. Buat orang sunda popon muhariah di atas yg bilang baginya sangat berpengaruh,saya sebagai wong jowo juga ga segan meladeni anda!!!di kota kami bnyk orang sunda merantau,dan kami menerima+menghormatinya!knapa anda tidak bisa seperti kami?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tak perlu marah pak Hudaya Anwar, dalam hubungan sosial sikap toleransi memang bisa kita pegang teguh, tapi dalam hubungan perkawinan cukup sulit. Bukankah sejak awal kita bicara soal hubungan perkawinan Sunda Jawa?

      Hapus
  13. Perang bubat ,
    Efek.y yang terasa sampe sekarang .
    Hebat..

    BalasHapus
  14. hahaha,,,,buat mas bro yg lg marah abis baca,mandi sono..

    BalasHapus
  15. dikatakan hanya kerajaan sunda yang tidak pernah takluk dan tidak pernah kalah oleh majapahit, padahal.... emang majapahit pernah nyerang sunda galuh gitu?? seumur2 belum prnh denger tapi menurut kitab negara kertagama hnya SUNDA lah yg TIDAK PERNAH DISERANG jadi wajarlah kalo tidak pernah takluk.. kenapa tidak pernah diserang krna kerajaan MAJAPAHIT masih menganggap SUNDA GALUH adalah Saudara mereka dan masih SATU keturunan. jadi ada larangan dari leluhur Majapahit agar tidak mengganggu dan menyerang tanah barat yaitu SUNDA GALUH yang masih kerabat dekat dari kerajaan majapahit. tapi entah kenapa ya Peristiwa BUBAT bisa terjadi? sangat disayangkan padahal waktu itu sebelum peristiwa bubat terjadi, Kerajaan SUNDA GALUH - MAJAPAHIT ketika bersatu sungguh sangat KUAT bahkan Pasukan ADIDAYA KUBILAIKHAN (MONGOLIA) ingin menguasai NUSANTARA tidak mampu. Nusantara sungguh sangat kuat waktu itu .. sampa akhirnya BELANDA menggunakan ADUDOMBA untuk memecah belah Kerajaan di pulau Jawa karena belanda tidak akan bisa masuk dengan mudah ke pulau jawa jika kerajaan terkuat di nusantara MAJAPAHIT dan PAJAJARAN masih SOLID. jadi sudah pada tau kan kenapa KOMPENI begitu mudahnya masuk ke Pulau Jawa,, ((Devide et impera))

    BalasHapus
  16. Bener komentarnya lo advent...dalam perang bubat seolah' Gajah Mada yg bertanggung jawab, padahal menurut ceritanya Gajah Mada mencegah PERNIKAHAN SEDARAH anatara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka..Gajah Mada tau kalo ternyata Dyah Pitaloka itu masih ada hubungan kekerabatan dengan Hayam Wuruk....Sebenarnya banyak sejarah Majapahit yg di kaburkan, kayanya ada beberapa orang yg masih gak bisa terima Kejayaan MajaPahit...harus diakui juga kalo gak Gajah Mada tidak mengucapkan SUMPAH PALAPA gak akan ada NUSANTARA...

    BalasHapus
  17. sebagai umat beragama tidak seharusnya kita membeda-bedakan antara suku ini dan suku itu, apapun itu sukunya yg penting kita masih seiman.

    BalasHapus
  18. heboohhhhh deeehhh.........tahun berapa ini brooowww!?!?!!?

    BalasHapus
  19. sukuisme penting untuk membangun daerah masing-masing, tapi kalo sudah skala nasional ya dihlangkan sukuismenya.

    BalasHapus
  20. Komentar semua bagus, wajar kalo ada yg tersentuh. Tapi harus ingat ya, cerita diatas itu adlah cerita dari mulut kemulut, sdh pasti versi nya beda2. Skr utk yg emosi mending main PS resident evil. Nah bunuh tu zombie..he he

    BalasHapus
  21. Misteri tersembunyi dalam perang Bubat adalah mengapa Majapahit tidak pernah tercatat dalam sejarah menaklukan kerajaan Lingga Buana (sunda) padahal ekspansi Majapahit tidak hanya di wilayah yang sekarang ini menjadi wilayah indonesia, tapi juga hingga manca negara..

    Ada kemungkinan saat ini Kerajaan sunda memiliki sesuatu yang ditakutkan oleh Majapahit?

    BalasHapus
  22. Kalau soal Nama Jalan memang benar , di Bandung dan hampir di seluruh wilayah jawa Barat , tak ada nama jalan yg bernama " Gajah Mada & Majaphit " , Ini saya ketahui karena saya Lama di wilayah parahiyangan ( 4.5 th di Unpad , 3 thn sebagai Stap personalia Pt.Kahatex - cijerah dan 4 tahun di Kuningan ( Kampung suami ). Pun sebalik'a di seluruh Jawa Timur tak akan di temukan Jalan yang bernama Padjadjaran dan Siliwangi , ini menurut keterangan banyak teman dan Media.
    Tapi Soal pernikahan antara Wanita jawa dengan lelaki Sunda ( sebaliknya ) bisa mendatangkan keburukan ( banyak pertengkaran dan berujung penceraian ) Adalah Mitos belaka , Fakta saya adalah wanita berdarah jawa 100% ( Djogjakarta ) sedang suami asli dari suku Sunda ( Kuningan ) , sudah 14 tahun menikah dan di karuniai 2 orang puteri ( 12 & 4 tahun ) , selama pernikahan dalam kurun 14 tahun boleh di kata kami bahagia , harmonis dan penuh kasih sayang , kami bisa saling menghormati dan menghargai satu sama lain , baik dari segi kebiasaan , adat dan budaya.
    Dalam pernikahan yang di butuhkan adlah kedewasaan dan persamaan tujuan. Bukan masalah Kesukuan.

    BalasHapus
  23. Peluang Bisnis Dahsyat Yusuf Mansur. "Orang islam harus KAYA"
    dan "Beli Kembali Aset Indonesia" dengan INDONESIA BERJAMAAH
    Segera Amankan Posisi Anda, Segera JOIN bersama
    Komunitas VSI , bisnis terbaru Ustadz Yusuf Mansur
    Dengan Produk V-pay ( Virtual Payment ) Anda akan
    dimudahkan dalam hal urusan pembayaran listrik,
    telpon, pulsa, PDAM, TV Berbayar, Internet, Asuransi,
    Kartu Kredit dan lain-lain. Transaksi dapat dilakukan
    melalui Website, SMS, Android, BlackBerry, iPhone dan YM.
    Penasaran Dengan Bisnis Ustd. Yusuf Mansur ini Kunjungi Website: KLIK DISINI

    BalasHapus
  24. Peluang Bisnis Dahsyat Yusuf Mansur. "Orang islam harus KAYA"
    dan "Beli Kembali Aset Indonesia" dengan INDONESIA BERJAMAAH
    Segera Amankan Posisi Anda, Segera JOIN bersama
    Komunitas VSI , bisnis terbaru Ustadz Yusuf Mansur
    Dengan Produk V-pay ( Virtual Payment ) Anda akan
    dimudahkan dalam hal urusan pembayaran listrik,
    telpon, pulsa, PDAM, TV Berbayar, Internet, Asuransi,
    Kartu Kredit dan lain-lain. Transaksi dapat dilakukan
    melalui Website, SMS, Android, BlackBerry, iPhone dan YM.
    Penasaran Dengan Bisnis Ustd. Yusuf Mansur ini Kunjungi Website: KLIK DISINI

    BalasHapus
  25. Peluang Bisnis Dahsyat Yusuf Mansur. "Orang islam harus KAYA"
    dan "Beli Kembali Aset Indonesia" dengan INDONESIA BERJAMAAH
    Segera Amankan Posisi Anda, Segera JOIN bersama
    Komunitas VSI , bisnis terbaru Ustadz Yusuf Mansur
    Dengan Produk V-pay ( Virtual Payment ) Anda akan
    dimudahkan dalam hal urusan pembayaran listrik,
    telpon, pulsa, PDAM, TV Berbayar, Internet, Asuransi,
    Kartu Kredit dan lain-lain. Transaksi dapat dilakukan
    melalui Website, SMS, Android, BlackBerry, iPhone dan YM.
    Penasaran Dengan Bisnis Ustd. Yusuf Mansur ini Kunjungi Website: KLIK DISINI

    BalasHapus